Bergantung kepada Doa Orang Lain ….. adalah Salah......




Ketika seseorang datang mengaku hamba Tuhan kepada seorang anggota jemaat dan menyediakan “jasa doa” - maksudnya menawarkan diri mendoakannya - maka jemaat tersebut akan sangat terbuka dan berterima kasih. Dengan penuh harap, ia menerima doa yang dinaikkan hamba Tuhan tersebut bagi dirinya. Tentu jemaat tersebut akan berusaha beriman terhadap doa hamba Tuhan itu agar dikabulkan Tuhan.

Maka tidak jarang seorang dan jemaat membeberkan berbagai masalah dan kebutuhan yang menjadi pergumulannya untuk didoakan, agar dapat diselesaikan dan kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi.
Banyak orang Kristen beranggapan bahwa para hamba Tuhan dapat menjadi mediator (perantara) antara umat dan Tuhan. Mereka dapat menjadi alat membujuk Tuhan atau memiliki akses langsung kepada-Nya. Doanya pasti lebih cespleng.

Kenyataannya, tidak sedikit hamba Tuhan sengaja mengesankan bahwa dininya lebih istimewa—”lebih sakti”—dibanding manusia lain, bahwa dirinya memiliki “nomor handphone khusus” Tuhan. Di dunia yang penuh masalah hari ini orang-orang yang mengaku hamba Tuhan dan berani menawarkan “jasa doa”nya menjadi laku di pasaran. Biasanya mereka menamakan diri sebagai “pendoa syafaat”, “pelihat”, “memiliki karunia bernubuat”, dan lain sebagainya.

Fenomena ini harus ditengai sebagai suatu hal yang membahayakan iman murni yang seharusnya dimiliki anak-anak Tuhan. Ini dikemukakan bukan berarti sudah tidak diperlukan lagi doa seorang hamba Tuhan, tetapi agar anak-anak Tuhan mulai dewasa dan belajar menemukan Tuhan dalam kehidupannya. Kalau orang-orang Kristen yang telah lama ikut Tuhan masih “dirawat” dengan praktik seperti itu, pertumbuhan imannya akan rusak, sebab imannya bukan ditujukan kepada Tuhan, tetapi ditujukan kepada doa hamba Tuhan tersebut.

Marilah kita mengenal Tuhan dan belajar mengerti bagaimana bergaul secara akrab dengan-Nya. Dalam proses pertumbuhan yang benar, kita tidak tergantung dan orang lain, tetapi tergantung pada Tuhan.

Anak-anak Tuhan yang bertumbuh tidak lagi membutuhkan perantara doa. Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan doa orang lain sama sekali. Alkitab mengajarkan bahwa saling mendoakan adalah keharusan bagi sesama anak Tuhan. Tetapi bergantung kepada doa orang lain, seolah-olah doa orang lain lebih didengar oleh Tuhan, adalah salah. Tuhan tidak diskriminatif. Ia adalah Bapa bagi semua orang yang menjadi anak-anak-Nya. Tuhan tidak memandang muka (1 Ptr. 1:17). Ia membuka diri bagi setiap orang yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh.


Saling mendoakan adalah keharusan bagi sesama anak Tuhan, tetapi bergantung kepada doa orang lain, seolah-olah doa orang lain lebih didengar oleh Tuhan adalah salah.

(bahan: Renungan Harian Truth, Maret 2009)

Comments

Popular posts from this blog

Doa Pagi dan Doa Malam (Minggu Ketiga)

Jangan biarkan aku lelah melayani Engkau.